Beranda » Wisata Budaya » Pacu Itiak Tradisi Unik dari Minangkabau

Pacu Itiak Tradisi Unik dari Minangkabau


Senin, 06 Mei 2013 - 10:19:32 WIB | Wisata Budaya | 931 pembaca



Pacu itiak adalah olahraga tradisional asli Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat yang sudah dijadikan tradisi sejak tahun 1028. Pacu itiak diklaim sebagai satu - satunya di dunia. Olahraga ini bermula dari masyarakat di kanagarian Aur Kuning, Sicincin, dan Padang Panjang yang memelihara itiak sambil bertani. Itiak tidak hidup di kandang saja melainkan di gembala di sawah-sawah mereka. Saat menghalau itiak dari arah atas ke bawah, maka ada kecenderungan itiak untuk tidak semata berjalan atau berlari, mereka terbang laying ke arah bawah. Dari sinilah muncul ide untuk melangsungkan pacu itiak. Masyarakat Limapuluh Kota mulai melatih para itiak untuk dapat terbang tinggi dan kemudian diikutsertakan dalam ajang lomba pacu itiak yang diselenggarakan guna menghilangkan kejemuan dan kepenatan para petani.

Dari waktu ke waktu berbagai cara dilakukan guna membuat itiak dapat terbang di daerah dataran, bukan dari daerah yang tinggi ke daerah rendah. Upaya tersebut akhirnya berhasil. Keseriusan masyarakat kota Payakumbuh akhirnya membuat olahraga ini tidak semata dilakukan di sawah atau dataran biasa melainkan dalam sebuah gelanggang. Di kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh kota saat ini sudah terdapat 11 gelanggang.

Olahraga ini juga ditekuni secara profesional, hal ini terbukti dari adanya persatuan olahraga pacu itiak (PORTI). Di kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh kota, PORTI diketuai oleh Dt. Parmato Alam yang lebih dikenal sebagai Ketua Round Bond. Anggotanya tersebear di 11 kenagarian. Pembinaan Round Bond saat ini berada di Dinas Pariwisata Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota. Dinas Pariwisata Kota Payakumbuh memberikan dana pembinaan sebesar Rp. 2.500.000,- per gelanggang, sementara itu Dinas Pariwisata Kabupaten Limapuluh Kota memberikan dana untuk pembinaan sejumlah Rp. 1.000.000,- per gelanggang setiap tahunnya.

Itiak yang dijadikan itik pacuan memiliki kriteria khusus yakni warna paruh dan kaki harus sama, mata dengan alis memiliki jarak yang tipis, berleher pendek, sayapnya tidak boleh berpilin tetapi harus lurus dan mengarah ke atas, jumlah giginya ganjil, ujung jarinya ada sisik kecil, memiliki badan yang pajang (seperti jantung), serta berusia 4 sampai 6 bulan.

Harga satu ekor itiak pacuan adalah Rp. 100.000 hingga > Rp. 1.000.000,-. Banyaknya peminat itiak pacu membuat masyarakat di 3 kenagarian melakukan pembibitan itiak sehingga budaya pacu itiak dapat mengakar lebih dalam dan tidak tergezer oleh perkembangan zaman. Merekapun tidak pernah keberatan untuk berbagi ilmu terhadap orang yang berniat untuk belajar untuk melatih itiak agar bisa menjadi itiak pacuan.

Sebelum itiak mengikuti pacuan, maka itiak terlebih dahulu diberi nomor peserta. Nomor tersebut dipasangkan di paruh itik. Pacu itiak bisa jadi sebuah pacuan yang dalam imajinasi kita itiak disusun berbaris kemudian dihalau untuk dia kemudian berlari menuju garis finish. Namun sayang imajinasi tersebut belumlah tepat. Pacu itiak adalah sebuah pacuan di mana itiak dipegang oleh para pemilik itiak untuk kemudian dilemparkan tinggi melambung ke udara.

Setelah itiak dilepaskan, maka itiak-itiak tersebut akan terbang menuju garis finish. Meskipun itiak dikenal sebagai hewan yang jarang terbang, ternyata ini tidak menafikan kemampuannya untuk terbang jauh. Itiak ternyata mampu terbang hingga jarak tempuh dua kilometer lho. Seperti halnya orang pacu lari, pacu itiak pun memiliki jarak terbang yang sudah dibuat dalam beberapa pilihan, yakni mulai dari 800 m hingga 2000 m. Penilaian dilakukan yakni dengan melihat itiak yang mampu terbang di atas jalur yang telah ditentukan dan mampu mencapai garis finish paling cepat. Unik bukan?

Ternyata Minangkabau tidak saja menjadi negeri yang populer dengan makanannya yang pedas namun lezat, pemandangan alam yang spektakuler, budaya matrilinialnya yang unik, masyarakatnya yang pintar dagang, tetapi juga oleh sejumlah olahraga tradisionalnya. So, mari kenali negeri kita lebih dekat sehingga tumbuh rasa cinta terhadap budaya dan bangsa sendiri. (http://wisata.kompasiana.com)







Belum ada Komentar

Isi Komentar








Site Sponsors

Twitter Updates

Popular Articles

Facebook Like

Instagram

Instagram

Site Sponsors