Beranda » Wisata Kuliner » Palai Bada, Nikmatnya di Bulan Puasa

Palai Bada, Nikmatnya di Bulan Puasa


Rabu, 17 Juli 2013 - 11:27:23 WIB | Wisata Kuliner | 1210 pembaca



Masih ingatkah anda dengan lagu 'Palai Bada' yang dinyanyikan Elly Kasim? Lagu karya M.Gaus ini begitu populer di tahun 70an. Bercerita tentang salah satu makanan khas tradisional Minangkabau yang mulai terpinggirkan.

Jikok jadi tuan ka pasa
tolong balikan si gulo saka
jikok tuan salero patah
cubo makan si palai bada
jikok tuan salero patah
cubo makan si palai bada

Yo...palai bada lamak rasonyo makan baduo
Yo...palai bada lamak rasonyo makan baduo

urang Rao pai ka danau
ambiak rumpuik si bilang bilang
yo kok tuan indak picayo
bali sabungkuih baok pulang
yo kok tuan indak picayo
bali sabungkuih baok pulang

Dengan irama melayu yang mendayu membuat lagu 'Palai Bada' enak didengar. Tak hanya lagunya, palai bada juga enak disantap. Bagi orang minang palai bada memang tak asing lagi. Makanan yang terbuat dari parutan kelapa yang dicampur dengan bada, semacam ikan teri basah berukuran kecil yang dicampur dengan bumbu-bumbu masak seperti kunyit, lengkuas dan cabe. Orang jawa menyebutnya pepes ikan.

Membuat palai bada tidaklah sulit. Adonan palai bada yang telah tercampur dikukus hingga matang. Lalu adonan diletakkan diatas daun pisang kira-kira lima sendok makan. Gulung daun pisang hingga semua bagian tertutup. Jepit kedua ujung daun pisang menggunakan lidi.

Palai bada yang sudah dikemas siap untuk dibakar. Cukup dengan tungkuan sederhana yang berbahan bakar serabut kelapa. Namun ingat, daun pisang pembungkus palai bada minimal 3 lapis, sebab kalau hanya satu, daun pisang akan cepat gosong sedangkan palai belum matang sempurna.

Butuh waktu sekitar 20 menit untuk memanggangnya. Jika daun pisang sudah gosong dan tercium wangi sedap, maka palai bada siap disajikan. Eni (39), salah satu pedagang palai bada yang masih bertahan. Sejak masih kanak-kanak iya sudah membantu ibunya berjualan palai bada di Pasar Raya. Kini, ia membangun lapaknya sendiri di jalun evakuasi Ampang, tak jauh dari Panti Asuhan Aisyiyah.

"Palai bada sudah mulai langka. Hanya sedikit orang yang menjualnya. Padahal ini makanan khas Minang yang harus dilestarikan," kata ibu beranak dua ini.

Palai bada yang dibuat eni ada tiga jenisnya, palai bada ikan asin, palai bada lado (cabe) dan palai bada biasa. Setiap bungkusnya ia jual dengan harga Rp6 ribu rupiah. Setiap hari ia bisa meraup untung bersih sekitar Rp300 ribu rupiah.

Menurut Eni berjualan palai bada susah-susah gampang. Susah karena begitu banyak makanan cepat saji yang lebih disukai generasi muda. Gampang karena bagaimana pun palai bada tetap punya penikmat. Penjualan palai bada melonjak saat bulan Ramadhan. "Kalau hari biasa kadang berlebih, tapi bulan puasa ludes semua. Biasanya uni jualan dari jam 10 sampe berbuka,". (http://www.ranahberita.com)







Belum ada Komentar

Isi Komentar








Site Sponsors

Twitter Updates

Popular Articles

Facebook Like

Instagram

Instagram

Site Sponsors