Beranda » Wisata Budaya » Kesenian Batombe Solok Selatan, Sumatra Barat

Kesenian Batombe Solok Selatan, Sumatra Barat


Rabu, 10 Juli 2013 - 13:18:28 WIB | Wisata Budaya | 1613 pembaca



Apabila Anda datang ke Nagari Abai, Kecamatan Sangir Batang Hari, Kabupaten Solok Selatan, Sumatra Barat, ada baiknya Anda menonton pertunjukan Kesenian Batombe yang menyerupai pertunjukan Randai. Kesenian ini awalnya dimainkan untuk menghibur dan memberi semangat kepada masyarakat yang sedang bergotong-royong untuk pembangunan Rumah Gadang. Namun, pada perkembangannya kesenian Batombe dibawakan khusus sebagai sarana penghibur bagi tamu yang datang dari jauh, seperti para perantau dan wisatawan yang berkunjung ke daerah ini. Biasanya, kegiatan tersebut diadakan pada waktu libur panjang sehingga para perantau dan wisatawan banyak datang ke Nagari tersebut, seperti hari raya Idul Fitri dan libur Nasional.

Awal mula munculnya kesenian Batombe dapat dirunut dari kisah pembangunan Rumah Gadang (besar) 21 Ruang. Konon, sebelum masa penjajahan Belanda, wilayah yang kini dikenal sebagai Nagari Abai masih sangat sunyi. Perkampungan yang ditempati oleh masyarakat juga masih dikelilingi oleh hutan belantara. Rasa cemas dan was-was menyelimuti penduduk di perkampungan itu. Sewaktu-waktu, hutan yang ada di sekitar mereka bisa saja menjadi ancaman, karena di dalamnya hidup bermacam satwa liar, seperti harimau, babi hutan, dan ular. Sementara itu, rumah tempat mereka berlindung juga belum memadai. Untuk mengantisipasi hal tesebut, maka pucuk adat, tokoh agama, dan pemuka masyarakat melakukan musyawarah. Dari hasil musyawarah itu, didapat kesepakatan untuk membangun Rumah Gadang 21 Ruang.

Hasil musyawarah tersebut lalu diumumkan pada khalayak ramai. Masyarakat bergotong-royong mempersiapkan pembangunan. Langkah pertama yang mesti dilakukan adalah mencari bahan baku untuk bangunan. Masyarakat bersepakat untuk mengambilnya dari hutan yang ada di sekitar mereka. Setelah segala persiapan selesai, maka mereka pergi menuju hutan mencari pohon yang tepat untuk dijadikan penyangga bakal Rumah Gadang. Lalu, batang pohon ditebang kemudian dipotong-potong dan dijadikan beberapa bagian, seperti balok, papan, dan kasau. Kaum ibu memberikan dukungan dengan menyiapkan makanan dan minuman bagi para pekerja.

Setelah sekian lama bekerja, kepenatan pun tak dapat dielakkan dan perlahan-lahan pekerjaan pun menjadi tersendat. Melihat kondisi tersebut, ada sebagian orang yang punya ide untuk mengembalikan semangat bekerja. Maka, beberapa muda-mudi dan orangtua didaulat untuk menyanyikan pantun yang berisi petuah dan kata-kata pembangkit semangat. Mendengar pantun yang bersahutan dan orang banyak mulai menari, maka yang lain ikut larut dalam irama lagu dan gerakan tari yang energik. Hal tersebut, melecut kembali semangat masyarakat dan pekerjaan pun siap dilanjutkan. Kisah inilah yang diyakini sebagai cikal bakal lahirnya Batombe.

Di tengah keceriaan tadi, masyarakat dikejutkan dengan keanehan, yaitu ketika hendak mengangkut salah satu kayu yang telah selesai ditebang. Saat pohon ditebang, masyarakat tidak mengalami kesulitan, tetapi saat hendak ditarik menuju perkampungan, kayu tersebut tidak bisa bergerak sama sekali. Melihat kondisi ini orang-orang menjadi kebingunan. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, maka diadakanlah musyawarah terbatas untuk mencari jalan keluar. Dari musyarawarah itu diputuskan untuk menyembelih salah satu binatang ternak, yaitu seekor kerbau. Darah sembelihan tersebut lalu dipercikkan pada kayu sebagai penghormatan dan mohon izin pada makhluk halus penghuni batang kayu itu. Hingga sekarang ritual penyembelihan binatang ternak ini terus dilakukan setiap kesenian Batombe akan dipentaskan. Jika ini tidak dilakukan, maka yang punya hajatan dalam kesenian Batombe akan dikenai denda adat.

Kesenian Batombe biasanya dimulai setelah pembacaan pantun pembukaan oleh penghulu (datuk). Para pemain kemudian masuk dengan berbaris menuju ke tengah ruangan (arena) membentuk formasi lingkaran. Jumlah pemain terdiri dari 10 orang laki-laki dan 3 orang perempuan, sehingga total 13 orang. Dari 13 orang tersebut, 12 di antaranya bergerak dan menari membentuk garis lingkaran, sementara 1 orang lainnya menari di dalam lingkaran. Formasi ini bukanlah formasi baku. Pada lain waktu pemain Batombe bisa lebih dari jumlah di atas atau bisa berkurang.

Kesenian Batombe biasanya diiringi dengan irama musik yang ceria. Alat musik yang dipakai biasanya terdiri dari gendang dan talempong. Gendang dan telempong ditabuh dengan cepat mengikuti irama nyanyian dan tarian yang dibawakan oleh para pemain Batombe.

Pada bagian akhir, para tamu yang hadir juga dapat bergabung untuk menari dalam kesenian Batombe. Selain menari, para tamu juga dapat menunjukkan kemampuan dalam berbalas pantun. Bahkan para tamu yang masih lajang pun dapat memanfaatkan Batombe sebagai media yang tepat untuk mencari jodoh.

Tarian dan nyanyian yang ceria ini juga didukung dengan balutan serasi pakaian para pemain Batombe. Mereka mengenakan pakaian khusus yang menyerupai pakaian pemain randai atau silat. Perbedaannya terletak pada motif yang ada pada lengan baju. Pada randai dan silat biasanya digunakan motif yang polos, sementara pada pemain Batombe disulam dengan menggunakan benang emas. Warna pakaian pun bervariasi, seperti merah, hijau, kuning, dan hitam. Pada kepala dilengkapi dengan ikat kepala berwarna kuning keemasan, sedangkan pada pinggang dihiasi sehelai kain sulaman benang emas. Sementara untuk celana dirancang lebih besar pada bagian pahanya, sehingga menyerupai sarung (galembong). (http://www.wisatamelayu.com)







Belum ada Komentar

Isi Komentar








Site Sponsors

Twitter Updates

Popular Articles

Facebook Like

Instagram

Instagram

Site Sponsors