Beranda » Wisata Budaya » Tradisi Balimau di Sumatera Barat

Tradisi Balimau di Sumatera Barat


Jumat, 05 Juli 2013 - 13:46:08 WIB | Wisata Budaya | 911 pembaca



Sebagian masyarakat di Sumatera Barat tengah menanti tradisi yang sejak dulu berkembang. Balimau. mereka akan beramai-ramai datang ke tempat pemandian, tapian mandi, seperti sungai, danau, atau pantai.

Bersama-sama keluarga, bahkan juga teman-teman, anak-anak muda jolong gadang pergi beramai-ramai. Mereka akan mandi-mandi sambil tertawa berbahagia berkumpul bersama.

Dahulunya, tradisi balimau ini dianggap baik. Masyarakat Minangkabau yang dulu menjalani keseharian sebagai masyarakat pertanian, amat jarang bertemu dengan orang kampung dan kerabat. Mereka sibuk bertani ke ladang atau ke sawah. Setiap hari, tiada henti aktivitas tersebut dijalani.

Kesibukan ini membuat masyarakat Minang pada masa dahulu tidak mempunyai waktu untuk bertemu secara rutin. Akibatnya, ketika bulan ramadhan datang, mereka pun menyepakati, baik langsung maupun tidak langsung, untuk berangkat ke tepian dan menjalani tradisi balimau.

Hanya saja, nenek moyang masyarakat Minang bermula dari sekelompok masyarakat yang pernah menganut kepercayaan animisme dan pernah memegang kepercayaan Hindu Budha. Akibatnya, ada sebagian tradisi yang masih dijalani, meskipun saat ini mereka telah menjadi seorang muslim.

Dalam balimau misalnya, masyarakat Minang menjalaninya dengan bermandi di tepian mandi, lalu menyirami tubuh dengan air khusus yang dicampurkan dengan bunga-bunga atau rempah-rempah yang dibuat dengan cakua, kambelu, dan lainnya.

Bagi masyarakat dahulu, air campuran khusus tersebut digunakan untuk membersihkan diri secara lahiriah. Berharap agar segala penyakit jauh dari tubuh mereka, sehingga ketika menjalani ibadah puasa, mereka dapat menjalani dengan khusyuk.

Sebenarnya itu hanya kebiasaan yang diciptakan dan di tradisikan oleh sebagian masyarakat Minang. Secara hakikat, balimau dilakukan untuk menyucikan diri dari segala perbuatan buruk, membersihkan diri dari penyakit hati, seperti sakit hati, iri, dengki, riba, tamak, dan lainnya yang pada hakikatnya bertujuan untuk menjaga hati agar lebih siap menghadapi bulan suci ramadhan. Kini, Balimau dengan air khusus ini tentunya menjadi perbuatan yang dilarang oleh majelis agama di Sumatera Barat.

Di balik tradisi ini, sesungguhnya ada sesuatu yang tengah dikembangkan oleh masyarakat Minang. Tradisi berkumpul. Ketika mereka sibuk dengan berbagai kegiatan di sawah, ladang, dan pasar raya, masyarakat pun membutuhkan waktu untuk bertemu dengan kerabat dan orang kampung.

Oleh karena pada masa itu belum ada handphone dan telpon, mereka pun yang dulunya memiliki jarak antar rumah yang sangat jauh, menyepakati untuk balimau ke tapian mandi. Dengan kesepakatan ini, akhirnya membuat mereka bisa bertemu di satu tempat. Pada kesempatan itulah, mereka mengamalkan ajaran agama Islam untuk meminta maaf dan saling memaafkan.

Sederhana, bukan? Bukan sebuah tradisi yang menjadi euforia seperti saat ini!

Lalu, apakah balimau ini masih dijalankan oleh masyarakat Minang?
Nyatanya memang masih ada. Jika sudah memasuki bulan ramadhan, hampir seluruh media cetak, media online, radio, bahkan juga televisi swasta di Indonesia menyiarkan tradisi balimau masyarakat Sumatera Barat. Seakan-akan, tradisi ini harus rutin diliput setiap tahun. Mereka menampilkan gambar dan video masyarakat Sumatera Barat yang mandi di sungai, beramai-ramai.

Namun, di balik itu, sesungguhnya balimau itu tidak penting. Bahkan, tidak boleh dilakukan. Sebab, masyarakat sudah beranggapan beda. Anak-anak muda jolong gadang, lebih banyak memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan kebiasaan yang buruk. Berdua-duaan misalnya. Sementara, bagi keluarga yang mengikuti tradisi ini, tidak sadar telah membiasakan keluarga mereka mandi di tempat terbuka.

Artinya, mereka bisa saling melihat aurat masing-masing. Padahal, dalam agama Islam, aurat amat dijaga dan harus ditutup. Oleh karena itulah, banyak alim ulama yang melarang tradisi balimau.

Lalu, mengenai tradisi saling memaafkan yang sudah dijalani oleh nenek moyang kita, tentunya bisa digantikan dengan mengirim sms, menelpon, atau bertamu langsung ke rumah tetangga dan kerabat.

Ini akan lebih baik, bahkan konsep menyucikan diri sebelum ramadhan menjadi lebih mulia. (http://www.minangforum.com)







Belum ada Komentar

Isi Komentar








Site Sponsors

Twitter Updates

Popular Articles

Facebook Like

Instagram

Instagram

Site Sponsors