Beranda » Wisata Sejarah » Museum Kereta Api Sawahlunto

Museum Kereta Api Sawahlunto


Jumat, 07 Juni 2013 - 14:45:04 WIB | Wisata Sejarah | 509 pembaca



Kota Sawahlunto layak memiliki sebuah Museum Kereta Api, karena kota ini memang memiliki sejarah yang cukup panjang dengan kereta besi ini. Sejarah yang tidak lepas dengan eksploitasi tambang batubara di Sawahlunto oleh pemerintah kolonial Belanda. Setelah penemuan kandungan batubara di Sawahlunto, yang diperkirakan mencapai 200 juta ton, oleh WH de Greeve pada 1868, Belanda pun menanamkan modal 5,5 juta golden untuk membangun permukiman dan fasilitas perusahaan tambang batubara Ombilin, diantaranya jalur kereta api Sawahlunto – Emma Haven (Teluk Bayur), yang memulai sejarah perkeretaapian di Sawahlunto dan Sumatera Barat.

Museum Kereta Api Sawahlunto menempati beberapa ruangan yang berada di dalam bangunan Stasiun Kereta Api Sawahlunto. Gedung Stasiun Kereta Api Sawahlunto sendiri dibangun pada 1912, namun sejak 2003 angkutan batubara tidak lagi menggunakan jalur kereta api, sehingga sekarang hanya digunakan untuk melayani kereta api wisata carteran, atau kereta reguler yang diberangkatkan pada hari-hari Minggu saja.

Gerbong KA Wisata Mak Itam yang berkapasitas 30 orang. Di dalam bengkel ada satu gerbong lagi berkapasitas 23 orang, dan satu gerbong VIP. Untuk sampai ke stasiun Muara Kalaban dibutuhkan waktu setengah jam, dengan kecepatan kereta 10 km/jam.

Bagian dalam lokomotif Mak Itam di Museum Kereta Api Sawahlunto, berbahan bakar batubara, yang terserak di depan tungku pembakaran. Lokomotif Mak Itam seri E 1060 buatan Jerman tahun 1965 ini (beroperasi 1966) sempat dibawa ke Museum Kereta Api Ambawarawa pada 1996, sebelum dikembalikan pada 2008.

Pembangunan jalur Kereta Api di Sawahlunto dimulai dengan pembuatan jalur Pulau Aie (Padang) – Padangpanjang yang selesai pada 12 Juli 1891. Jalur Padangpanjang – Bukittinggi diselesaikan pada 1 November 1891, dilanjutkan jalur ke Solok yang selesai pada 1 Juli 1892. Jalur Solok – Muarokalaban dan jalur Padang – Telukbayur seleasi bersamaan pada 1 Oktober 1892. Akhirnya jalur Muarokalaban – Sawahlunto pun selesai pada 1 Februari 1894.

Di jalur kereta api pengangkutan batubara Sawahlunto – Teluk Bayur sejauh 151,5 Km dibangun lima tempat pemberhentian, yaitu di Solok, Batubata, Padang Panjang, Kayu Tanam, dan terakhir di Teluk Bayur. Dibutuhkan waktu sampai 10 jam non-stop untuk mengangkut batubara melewati jalur ini, karena kondisi jalan yang menanjak dan berkelok.

Koleksi Museum Kereta Api Sawahlunto berupa peralatan dan perlengkapan kereta api, seperti alat komunikasi, sinyal, pet, lampu, roda, baterai lokomotif, dsb. Seluruh koleksi Museum Kereta Api Sawahlunto ini berjumlah 106 buah.

Jam stasiun di Museum Kereta Api Sawahlunto, yang sebelumnya digantung pada dinding luar stasiun. Setiap pagi, semua stasiun di wilayah Sumatera Barat akan diberitahukan melalui morse untuk menyamakan jarum jam. Angka 4 romawi pada jam ini sama dengan angka pada Jam Gadang Bukittinggi, yang ditulis IIII.

Museum Kereta Api Sawahlunto, yang diresmikan pada 17 Desember 2005, merupakan museum kereta api kedua di Indonesia setelah Museum Kereta Api Ambarawa. Loko Uap Wisata Mak Itam seri E 1060 beroperasi kembali sejak 21 Februari 2009, dengan sewa Rp.3,5 juta untuk umum, dan Rp.1,5 juta untuk anak sekolah dan pelajar. Ada pula jadwal kereta api diesel yang beroperasi setiap hari minggu dari Padang Panjang – Solok ke Sawahlunto. (http://thearoengbinangproject.com)







Belum ada Komentar

Isi Komentar








Site Sponsors

Twitter Updates

Popular Articles

Facebook Like

Instagram

Instagram

Site Sponsors