Beranda » Wisata Misteri » Situs Batu Batikam Batusangkar Tanah Datar

Situs Batu Batikam Batusangkar Tanah Datar


Selasa, 04 Juni 2013 - 12:02:56 WIB | Wisata Misteri | 767 pembaca



Situs Batu Batikam masih berada di Nagari Limo Kaum, kurang dari 10 menit perjalanan dari Situs Prasasti Kubu Rajo.Situs Batu Batikam juga berada di tepi jalan besar, sehingga sangat mudah diakses. Tidak terlihat ada yang menjaga ketika kami tiba, dan karena tidak dikunci, kami pun masuk ke dalam kompleks Situs Batu Batikam dengan menaiki beberapa undakan.

Situs Batu Batikam suasananya terasa lebih angker dibanding situs Prasasti Kubu Rajo, mungkin karena ada lebih dari satu pohon beringin yang berukuran jauh lebih besar dan lebih tinggi, lagi pula hari sudah menjelang maghrib.

Situs Batu Batikam pada pohon beringin kedua di Situs, yang saking tuanya, batang utamanya sendiri sudah lapuk dan akar-akarnya yang menghunjam ke tanah sudah menjadi sebesar batang pohonnya sendiri.

Situs Batu Batikam dengan latar belakang pohon beringin raksasa. Situs Batu Batikam seluas 1.800 m2 ini pada jaman dahulu kala merupakan medan nan bapaneh, yaitu tempat bermusyawarah kepala suku. Deretan batu yang membentuk formasi segi panjang adalah tempat duduk para ketua suku ketika bersidang.

Di tengahnya, di atas susunan batu, terdapat batu yang hampir berbentuk segitiga terbalik terbuat dari batuan andesit dengan lubang pipih menembus batu di bagian atasnya, mirip bekasi tikaman senjata tajam, sehingga disebut Batu Batikam. Batu Batikam ini berukuran tinggi 55 cm, tebal 20 cm, dan lebar 45 cm.

Situs Batu Batikam  pada salah satu penanda yang dibuat dinas setempat di Situs Batu Batikam. Penanda yang telah berlumut ini menyebutkan bahwa menurut kepercayaan tradisional Minangkabau, Batu Batikam ini berlubang karena ditikam oleh Datuk Parpatiah Nan Sabatang, sebagai tanda berakhirnya perselisihan dengan Datuk Katumanggungan mengenai soal adat.

Tengara ini menyebutkan bahwa inilah nagari yang I sesudah Pariangan dibangun oleh Cati Bilang Panda, dengan anaknya Datuk Parpatih Nan Sabatang, berikut dengan empat koto yang lain, yaitu Balai Labuah, Balai Batu, Kubu Rajo dan Kampai Piliang. Kelima koto ini disebut V Kaum sebagai pusat pemerintahan adat Bodi-Caniago, dengan junjungan adatnya Datuk Bandaro Kuning.

Situs Batu Batikam dilihat dari arah pintu masuk. Perselisihan paham yang terjadi sehingga batu itu ditikam oleh Datuk Parpatih Nan Sabatang sebagai pertanda sumpah setia perdamaian adalah dalam hal pemakaian sistem pemerintahan adat Koto-Piliang (aristokrasi) yang dicetuskan kakaknya Datuk Katumanggungan dengan sistem pemerintahan adat Bodi-Caniago (demokrasi) yang dicetuskan Datuk Parpatih Nan Sabatang. Dengan ditikamnya batu tersebut maka kedua sistem tersebut tetap diakui keberadaannya dalam masyarakat Minangkabau.

Situs Batu Batikam ketika bapak penjaga di pinggir jalan di depan Situs. Menurut cerita, Datuk Katumanggungan juga menikam sebuah batu dengan kerisnya, yang diletakkan di Sungai Tarab VIII Batu (Bungo Satangkai, Bulakan Sungai Kayu Batarok) sebagai pusat pemerintahan Koto-Piliang, dengan pucuk adatnya Datuk Bandaro Putih.

Sejak peristiwa penusukan batu itulah tidak ada lagi perseteruan antara nagari-nagari yang menggunakan sistem Koto-Piliang dan yang menggunakan sistem Bodi-Caniago. (http://thearoengbinangproject.com)







Belum ada Komentar

Isi Komentar








Site Sponsors

Twitter Updates

Popular Articles

Facebook Like

Instagram

Instagram

Site Sponsors