Beranda » Wisata Sejarah » Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan di Bukittinggi

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan di Bukittinggi


Selasa, 04 Juni 2013 - 10:37:07 WIB | Wisata Sejarah | 539 pembaca



Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan merupakan sebuah area rekreasi keluarga dan wisata budaya di Kota Bukittinggi yang kami kunjungi dengan berjalan kaki menyeberangi Jembatan Limpapeh, sesaat setelah selesai melihat Benteng Fort de Kock. Memasuki area Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan, akan segera terlihat sebuah kandang Gajah, serta Rumah Adat Baanjuang yang digunakan sebagai museum.

Sayang sekali mungkin karena hari sudah terlalu sore, maka Rumah Adat Baanjuang itu pintunya telah tertutup rapat ketika kami tiba di sana, sehingga hanya bisa memotret bagian luar bangunannya saja.

Pohon tua dengan jumlah cabang yang tak terhitung banyaknya, dirimbuni oleh tumbuhan lumut dan paku-pakuan, telah menarik perhatian saya ketika memasuki kawasan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan ini.

Sebuah Rangkiang, lumbung padi khas suku Minangkabau, serta patung beberapa orang gadis yang tengah menumbuk padi, terdapat di depan Museum Rumah Adat Baanjuang di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan.

Bangunan Museum Rumah Adat Baanjuang di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan, dilihat dari sisi sebelah kanan, dengan tiang-tiang kayu tinggi penyangga bangunan rumah panggung, yang dinding luarnya dipenuhi dengan detail ornamen indah, serta bentuk atap meruncing tinggi menusuk langit.

Pintu masuk ke dalam Museum Rumah Adat Baanjuang di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. Museum ini didirikan pada 1 Juli 1935 dengan nama Mondelar, dan kemudian mengalami perubahan nama beberapa kali menjadi Museum Baanjuang, Museum Bundo Kanduang dan baru pada tahun 2005 berubah namanya manjadi Museum Rumah Adat Baanjuang.

Sebuah bangunan adat kecil di sebelah kanan Museum Rumah Adat Baanjuang di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan telah menarik perhatian saya untuk mendekatinya. Sebuah benda bulat ada di tengahnya yang dari jauh tampak seperti terbuat dari logam.

Apa yang tampak seperti logam di mata saya, ternyata bulatan kulit lembu yang menjadi ujung sebuah bedug berukuran sangat panjang, yang baru pernah saya lihat di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan ini.

Dua buah rangkiang yang berada di depan Museum Rumah Adat Baanjuang di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan itu bernama Sibayau-Bayang dan Sitinjau Lauik. Jika ingin masuk ke museum ini pengunjung cukup membayar Rp. 1.000 untuk melihat koleksi museum yang dibagi ke dalam kelompok etnografi, numismatik, dan biologi.

Kompleks ini dibangun tahun 1900 oleh Controleur Strom Van Govent sebagai kebun bunga yang dinamai Kebun Bunga “Strom Park”. Pada tahun 1929 area ini dijadikan kebun binatang oleh Dr. J. Hock, seorang dokter hewan, dan menjadi satu-satunya kebun binatang di Sumatera Barat.

Jika kita memiliki cukup banyak waktu, Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan ini cocok untuk dinikmati sambil berjalan santai di pagi atau sore hari, sambil menikmati pemandangan Kota Bukittinggi di pagi dan senja hari, dengan silir hawa perbukitan yang sejuk dingin. (http://thearoengbinangproject.com)







Belum ada Komentar

Isi Komentar








Site Sponsors

Twitter Updates

Popular Articles

Facebook Like

Instagram

Instagram

Site Sponsors