Beranda » Wisata Budaya » Ikan Larangan di Nagari Sumatera Barat

Ikan Larangan di Nagari Sumatera Barat


Selasa, 04 Juni 2013 - 09:46:09 WIB | Wisata Budaya | 1455 pembaca



Kearifan lokal menjaga kelestarian lingkungan dan juga kemandirian ekonomi adalah tanggung jawab masyarakat bersinergi dengan program pemerintah setempat. Salah satu bentuk kearifan lokal adalah ikan larangan di Nagari Sikucua Kec. V Kota Kampuang Dalam Kab. Padang Pariaman.

Kerusakan lingkungan akibat pengrusakan lingkungan hutan dapat dilihat dari banjir yang sering melanda berbagai kawasan aliran sungai. Kehancuran sumber daya ekonomi beriringan dengan kehancuran alam terutama hutan lindung dan hutan produksi masyarakat.

Menyikapi kehancuran lingkungan dan kehancuran ekonomi terlihat dari sebuah gerakan sosial bersama masyarakat di nagari sikucua berupa ikan larangan. Ikan larangan adalah sebuah komitmen besama untuk memilihara sungai sebagai pusat kegiatan masyarakat.

Manfaat utama dari ikan larangan adalah terpeliharanya sungai dari pencemaran dari sampah langsung maupun tidak langsung dari aktivitas masyarakat. Sampah langsung adalah Tinja dari hasil kakus massal masyarakat sekitar sungai. Untuk melihat fenomena ini bisa disaksikan ketika selesai azan subuh dan setelah magrib menjelang.

Sedangkan sampah tidak langsung adalah sampah rumah tangga hasil dari kegiatan keseharian masyarakat. hampir tidak banyak ditemui sampah plastik, kaleng dan kaca berada dalam aliran sungai. Ketika penulis mencoba untuk menikmati segarnya air sungai sambil memberi makan ikan larangan di dalam sungai tidak didapati sampah plastik, botol mineral dalam sungai. Sedangkan bebatuan tidak memiliki lumut, karena menjadi makanan ikan larangan.

Mencermati sisi lain dari ikan larangan ada dua manfaat besar bagi masyarakat sekitar.

Pertama. Manfaat kelestarian lingkungan. Keberadaan ikan larangan menjadikan masyarakat memiliki tindakan kesadaran menjaga keberadaan sungai dari pencemaran. Memelihara bantaran sungai dengan menanam berbagai jenis kayu dan juga menanam hutan adat dengan berbagai jenis tanaman yang menghasilkan buah seperti durian, jengkol dan berbagai jenis tanaman lainnya.

Kedua. Manfaat kemandirian ekonomi. Hasil dari ikan larangan menjadi pendapatan bagi aktivitas perekonomian nagari. Hasil ini dibagi menjadi beberapa pos, kas pemuda, perbaikan sarana umum berupa jalan nagari, perbaikan rumah ibadah dan juga kebutuhan lainnya sesuai dengan kesepakatan para tokoh nagari. Sedangkan manfaat lainnya menjadikan ikan larangan menjadi objek wisata keluarga. Hal ini menggerakkan perekonomian masyarakat, mulai dari menjual makanan, penginapan dan juga kebutuhan lainnya.

Untuk saat sekarang, potensi wisata keluarga ikan larangan membutuhkan sentuhan tangan kreatif menjadikan sebagai tempat favorit wisata ikan larangan. Mulai dari penambahan lubuk ikan, kapal kecil dan juga ketersediaan penginapan dan juga jenis pariwisata lain, seperti kuliner tapi sawah setelah melakukan aktivitas bertani.

Terkadang kearifan lokal menjaga lingkungan dan kemandirian ekonomi berasal dari masyarakat, pemerintah tinggal memberikan bimbingan teknis dan pemasaran. Untuk anak nagari dan pemuda bergiat membenahi pelayanan dan infrastruktur kenyamanan para pengunjung. (http://kompasiana.com)







Belum ada Komentar

Isi Komentar








Site Sponsors

Twitter Updates

Popular Articles

Facebook Like

Instagram

Instagram

Site Sponsors