Beranda » Wisata Misteri » Misteri Prasasti Tangga Batu Bersurat di Danau Singkarak

Misteri Prasasti Tangga Batu Bersurat di Danau Singkarak


Senin, 13 Mei 2013 - 14:32:13 WIB | Wisata Misteri | 1319 pembaca



Tangga Batu Bersurat di Dasar Singkarak". Dalam berita tersebut disebutkan bahwa Tim Research Pengumpulan Data-data Sejarah Minangkabau yang diketuai Drs. Hasan Basri melaporkan dalam Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau di Batusangkar, Agustus 1970 mendapatkan cerita adanya ‘batu basurek' (batu bertulis) di Batu Baraguang, Sumpur, tepi Danau Singkarak. Tapi batu tersebut sudah terbenam beberapa meter ke dalam danau.

Di bawah batu basurek tersebut ada terdapat ‘batu bajanjang' (tangga batu) yang turun ke dalam danau dan di tengah danau tangga tersebut menonjol ke atas dan turun lagi kira-kira 1 km dan naik lagi sampai ke pantai seberang Jorong Sudut Sumpur.
"Menurut keterangan penangkap ikan, bagian tangga yang meninggi itu hanya beberapa meter di bawah air permukaan danau, dan di kiri-kanan batu bersurat tersebut terdapat gua-gua," demikian isi laporan tim yang dikutip dari makalahnya.

Mengenai keberadaan batu prasasti/batu bersurat ini sampai saat ini masih menjadi misteri. Pertama, apakah batu tersebut memang ada atau hanya berdasar cerita dari mulut ke mulut (kaba)? Kedua, jika batu bersurat tersebut memang ada, peristiwa apa yang menyebabkan batu tersebut tenggelam ke dasar Danau Singkarak.

Mengenai misteri keberadaan batu bersurat ini, kemungkinan besar memang ada dengan indikasi bahwa ada laporan dari Tim Research Pengumpulan Data-data Sejarah Minangkabau yang diketuai Drs. Hasan Basri yang melaporkan adanya Batu Bersurat di Sumpur Danau Singkarak dalam Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau di Batusangkar, Agustus 1970.

Fakta kedua, Muhammad Radjab dalam bukunya Semasa Kecil di Kampung (Anak Danau Singkarak) terbitan Balai Pustaka tahun 1950 menulis bahwa " Tidak jauh ke timur Batu Beragung, ada sebuah dinding batu besar yang di tepi danau betul, bertulisan Sanskerta. Batu bersurat namanya. Jarang orang berani bersampan ke depannya, sebab oleh orang-orang kampung dipandang sakti, apalagi air di sana sangat dalam dan biru, dan ada pula ulakan yang menyeret apa saja ke bawah." Jika kita membaca buku beliau yang sangat detil menjelaskan tentang Sumpur, maka akan terasa nyata bahwa memang beliau pernah tinggal di Sumpur dan menyaksikan keberadaan Prasasti Batu Tangga Basurek Danau Singkarak tersebut.

Fakta ketiga, ada pantun orang minang yaitu "tidaklah ada asap tanpa ada api". Cerita mengenai Prasasti Batu Basurek Singkarak ini kemungkinan besar memang ada. Suatu cerita/kaba tidak akan muncul dengan sendirinya jika tidak ada peristiwa atau kenyataan. Kaba tersebut beredar dari mulut ke mulut dan kadang-kadang sering dilebih-lebihkan supaya para pendengar senang mendengarnya. Namun biasanya benda yang diceritakan biasanya ada. Misalnya ketika tukang kaba menceritakan bahwa Gunung Merapi sebesar telur itik, pada kenyataannya Gunung Merapi itu memang ada, tapi sebesar telur itiknya memang terlalu berlebihan walaupun mungkin bisa dibantah karena jika kita lihat dari jauh maka jika kita bandingkan Gunung Merapi dengan telur itik maka akan kurang lebih sama.

Jika kita kaitkan dengan keberadaannya prasasti ini di Sumpur maka kita bisa melihat kemungkinan bahwa pada zaman pemerintahan Raja Alam sekitar abad ke 15 di Sumpur pernah di perintah oleh seorang wakil raja, yaitu Raja Ibadat yang berkedudukan di Sumpur Kudus, mungkinkah kita dapat menduga bahwa prasasti ini berasal dari Raja Ibadat? Namun karena Muhammad Radjab menyatakan bahwa prasasti ini bertuliskan huruf Sanskerta, maka kemungkinan prasasti ini merupakan bagian dari prasasti di masa pemerintahan Adityawarman yang tersebar di beberapa daerah di Sumatera Barat.

Kemudian, mengenai tenggelamnya prasasti ini juga menjadi misteri tersendiri. Kemungkinan yang utama adalah bahwa penyebabnya bencana yang bisa berasal dari naiknya permukaan air Danau Singkarak, atau turunnya dasar danau akibat bencana gempa. Mengenai naiknya air Danau Singkarak tidak pernah ada catatan yang dapat ditemukan dan sampai saat ini meskipun permukaan air Danau Singkarak sudah turun karena disedot oleh PLTA Singkarak, keberadaan prasasti Danau Singkarak ini masih tidak ditemukan.

Jika kita kaitkan dengan gempa, maka kemungkinan penyebabnya adalah gempa yang berpusat di Padang Panjang pada tanggal 28 Juni 1926. Gempa ini menyebabkan rekahan tanah di beberapa daerah. Jika kita kaitkan dengan Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau di Batusangkar yang diadakan pada Agustus 1970, maka keberadaan batu ini masih ada yang mengetahui keberadaannya sebelumnya. Jadi kira-kira orang yang bercerita kemungkinan lahir sebelum gempa dan pada tahun 1970 baru berumur sekitar 50 tahun sehingga bisa menyampaikan tentang prasasti tersebut kepada orang lain.

Faktor lain yang menyebabkan hilangnya prasasti ini mungkin karena gempa besar dengan kekuatan 7,6 SR yang berpusat di Singkarak pada tanggal 9 Juni 1943. Setelah gempa diketahui telah terjadi pensesaran sepanjang 60 KM antara Danau Singkarak dan Danau Diatas. Di Salayo jalan bergeser sepanjang 2-3 meter. (http://www.allaboutminangkabau.com)







Belum ada Komentar

Isi Komentar








Site Sponsors

Twitter Updates

Popular Articles

Facebook Like

Instagram

Instagram

Site Sponsors