Beranda » Wisata Kuliner » Kedai Kopi Kawa Daun, Kabupaten 50 Kota

Kedai Kopi Kawa Daun, Kabupaten 50 Kota


Jumat, 03 Mei 2013 - 15:39:25 WIB | Wisata Kuliner | 2053 pembaca



Hitam pekat legam dalam batok kelapa itu masih berasap. Semerbak aromanya menerabas jauh di lorong kerongkongan. Kopi 'kawa daun', begitu masyarakat menyebutnya, menjelma menjadi minuman paling digemari di Sumatera Barat karena aroma yang begitu khas seperti daun disangrai, berpadu dengan rasa kelat yang melekat lama di lidah.

Bisnis kopi kawa daun, juga lazim disebut kawa daun, di Sumatra Barat, kini berkembang bak jamur di musim hujan. Kedai atau lapau beratap rumbio tumbuh subur di pinggir sawah yang sedang menguning, lintas Payakumbuh – Batusangkar, dengan tulisan ‘Kedai Kopi Kawa Daun’.

Kedai kawa daun mulai menjamur dalam lima tahun terakhir, dengan sasaran awal pengendara. Namun, lambat laun menyeruput kawa daun juga digandrungi para pelancong. Sebab, bukan hanya menikmati sebatok kopi dengan rasa khas, tapi karena merasakan pengalaman berbeda berupa duduk di kedai beratap rumbio dengan view keelokan pegunungan Bukit Barisan.

Kini, Selain di Tanah Datar, kawa daun juga dengan mudah ditemukan di wilayah Kabupaten 50 Kota, Payakumbuh, lintas Payakumbuh - Bukittingg, dan sepanjang jalan Bukittinggi - Padang. Bahkan, beberapa kedai kawa daun juga telah hadir di Kota Padang.

“Rasa kelatnya yang menggigit lidah mungkin yang menjadi candu,” ujar Rendi, seorang pelancong, beberapa waktu lalu, di Sungai Tarab, Tanah Datar.

Standar harga Kawa Daun yang dipatok bervariatif. Untuk kawa daun biasa, harganya Rp3 ribu per batok kelapa, kawa es Rp4 ribu per batok kelapa, kawa susu Rp5 ribu per batok kelapa, kawa susu es Rp6 ribu per batok kelapa, kawa telor, Rp7 ribu per batok kelapa.

Kawa daun lahir dari sebuah kesalahan cara pandang tentang teh. Masyarakat darek­­— meliputi Tanah Datar, 50 Kota, dan Agam, tempat berkembangnya Kawa Daun, menganggap racikan yang dihasilkan dari daun kopi merupakan minuman selayaknya teh.

Sejarawan Universitas Negeri Padang (UNP) Mestika Zed mengatakan, tanaman kopi sudah ada di Sumatera Barat sebelum kedatangan Belanda. Jenis kopi Arabika dan Afrika, semuanya dibawa oleh pedagang Arab. Sedangkan teh baru dikenal pada akhir abad ke 19.

“Orang –orang Minang memfungsikan kopi kawah daun sebagai pengganti teh,” kata penulis buku 'Melayu Kopi Daun' tersebut.

Kesalahan paradigma tentang teh ini, menyebabkan biji kopi terbuang begitu saja. Mestika Zed mengatakan, masyarakat Minangkabau tak tahu kegunaan biji kopi.

Lantas, keberadaan Belanda sejak akhir abad ke-18, sedikit merubah makna tentang tanaman kopi.

Menurut Mestika Zed, Belanda mendapati telah ada tanaman kopi di kawasan Minangkabau. Belanda kemudian memanfaatkan kenyataan tersebut, bahkan mengembangbiakan tanaman kopi dengan tujuan komoditi ekspor.

Tahun 1830, Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch menerapkan sistem tanam paksa. Setiap desa diwajibkan menyediakan 20 persen lahannya untuk ditanami komoditi ekspor seperti, kopi, tebu, dan nila. Implementasi awal dilakukan di Pulau Jawa.

Secara perlahan namun pasti, pemerintah kolonial Belanda pun mulai menyosialisasikan sistem ini. Tahun 1947, sistem tanam paksa mulai diterapkan di kawasan Minangkabau. Setiap keluarga diwajibkan menanam kopi 100 batang hingga 150 batang.

Orang-orang Minang menurut Mestika, menanggapi kebijakan ini dengan positif. Bahkan, banyak yang menanam lebih dari ketentuan.

Asa akan panen kopi yang melimpah, membuat Belanda membangun 'pak huis' (gudang kopi) di hampir tiap nagari di kawasan utama Minangkabau, seperti Koto Gadang, Sungai Pua, dan lainnya. Awalnya berjalan sesuai rencana, hampir semuanya menyetor panen kopi ke gudang-gudang terdekat.

Namun, hal itu melahirkan kecurigaan dan pelbagai tanda tanya tujuan dibalik monopoli Belanda terhadap komoditi tanaman kopi.

Apalagi, Mestika Zed menjelaskan, mobilitas saudagar Minangkabau lintas Sumatera- Malaka menghembuskan kabar bahwa harga biji kopi di pusat perdagangan Malaka lebih tinggi dibanding harga yang dipatok Belanda.

Kabar ini sontak merubah segalanya. 'Pak huis' yang disediakan Belanda mulai sepi dari setoran masyarakat, sebab mereka lebih terpikat dengan harga di Malaka. Apalagi, toke-toke kopi pun menampung produksi mereka dengan patokan harga di Malaka.

Menurut Mestika Zed, petani kopi pun semakin bergairah untuk meningkatkan penanaman karena permintaan pedagang yang jumlahnya semakin meningkat. Lintas niaga Minangkabau – Malaka melalui rute sungai kembali hidup. Belanda tak bisa menghambatnya.

“Semenjak orang-orang Minang tahu harga kopi di Malaka menggiurkan, puluhan 'pak huis' (gudang kopi) yang didirikan Belanda di kawasan Minang, mulai sepi dari pasokan buah kopi. Mereka kembali menapaki jalan darat maupun jalur sungai menuju ke Malaka yang telah menjadi jalur perdagangan selama berabad-abad,” tutur Mestika.

Melihat kenyataan tersebut, cerita Mestika Zed, umpatan bernada kesal keluar dari mulut petinggi kompeni Belanda di Minangkabau. Karena tak hanya kebijakan sistem tanam paksa kopi yang ditelikungi, tapi juga menyebabkan minus devisa.

“Minangkabau sialan. Dulu daun saja yang dimakan, sekarang buahnya juga. Bikin kita tekor.” Ungkapan yang dilontarkan petinggi Belanda yang ditirukan kembali Mestika Zed.

Berdasarkan Kolonial Museum “Koffie,” puncak produksi kopi yang masuk ke pak huis (gudang kopi Belanda) di Ranah Minang terjadi pada tahun 1885 dengan angka 17.100 ton.

Pasca itu, komoditi kopi mulai mati lemas. Selain kurangnya pasokan ke gudang, kemerosotan ini juga karena terjadinya Perang Belasting— penolakan atas pemberlakuan pajak oleh Belanda, di beberapa nagari di Minangkabau awal abad ke-20, serta kemerosotan ekonomi lokal.

Dibalik dinamika tanaman kopi tersebut, tiap rumah tangga di Minangkabau masih tetap menjadikan kawa daun sebagai minuman utama keluarga. “Meski teh telah dikenal pada akhir abad ke 19, kopi kawa daun tetap menjadi tren hingga zaman kemerdekaan,” tandas Mestika Zed.

Dikatakan Mestika, maraknya penanaman kopi pada pertengahan abad ke 19 tersebut, otomatis mengubah pemahaman masyarakat Minangkabau, ternyata biji kopilah bahan minuman kopi, bukan daun. Meskipun begitu, kawa daun tidak ditinggalkan, dan kembali menggeliat di era 'Starbucks Coffe' ini. (http://www.ranahberita.com)







Belum ada Komentar

Isi Komentar








Site Sponsors

Twitter Updates

Popular Articles

Facebook Like

Instagram

Instagram

Site Sponsors