Beranda » Wisata Rohani » Masjid Nagari Lubuk Bauk di Sumatera Barat

Masjid Nagari Lubuk Bauk di Sumatera Barat


Jumat, 03 Mei 2013 - 09:50:13 WIB | Wisata Rohani | 577 pembaca



Surau Nagari Lubuk Bauk tidak sulit untuk dikunjungi. Lokasinya berada di pinggir jalan raya Batusangkar – Padang yang secara administratif terletak Desa Lubuk Bauk, Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Bangunan surau ini terletak lebih rendah sekitar satu meter dari jalan raya berbatasan dengan jalan raya Batusangkar – Padang di bagian utara, kolam dan masjid di bagian timur, kolam dan rumah penduduk di bagian selatan, dan rumah penduduk di bagian barat.

Surau Lubuk Bauk didirikan di atas tanah wakaf Datuk Bandaro Panjang, seorang yang berasal dari suku Jambak, Jurai Nan Ampek Suku. Dibangun oleh masyarakat Nagari Batipuh Baruh dibawah koordinasi para ninik mamak pada tahun 1896 dan dapat diselesaikan tahun 1901. Bangunan yang bercorak Koto Piliang yang tercermin pada susunan atap dan terdapatnya bangunan menara, sarat dengan perlambang dan falsafah hidup ini memiliki peran besar dalam melahirkan santri dan ulama yang selanjutnya menjadi tokoh pengembang agama Islam di Sumatera Barat. Pada tahun 1984 dilakukan studi kelayakan dalam rangka pemugaran oleh Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sumatera Barat. Tindak lanjut dari studi kelayakan tahun 1984 adalah pelaksanaan pemugaran Surau Lubuk Bauk oleh Pemerintah Daerah setempat pada tahun anggaran 1992/1993. Sampai saat ini Surau Lubuk Bauk masih digunakan sebagai tempat belajar mengaji dan mengadakan musyawarah/rapat bagi masyarakat setempat, disamping sebagai obyek wisata budaya.

Surau Lubuk Bauk berdenah bujur sangkar, terbuat dari kayu surian dengan luas 154 meter persegi dan tinggi bangunan sampai kemuncak sekitar 13 m. Bangunan dikelilingi pagar besi berbentuk panggung dengan tinggi kolong 1,40 meter terdiri dari tiga lantai dan satu lantai berfungsi sebagai kubah/menara yang terletak di atas atap gonjong berbentuk segi delapan. Pintu gerbang terletak di timur menghadap ke selatan (jalan raya), sedangkan pintu masuk surau terletak di timur dan naik melalui enam buah anak tangga. Di atas pintu (ambang pintu) terdapat tulisan arab “Bismillahirrahmanirrahim” yang dibuat dengan teknik ukir dan di belakangnya ditutup dengan bilah papan. Di depan pintu terdapat tempat mengambil air wudlu. Atap bangunan terbuat dari seng bersusun tiga. Atap pertama dan kedua berbentuk limasan, sedangkan atap ketiga yang juga berfungsi sebagai menara memiliki bentuk gonjong di keempat sisinya. Pada bagian puncak, atapnya membentuk kerucut dengan bentuk susunan buah labu/bola­bola.

Bangunan surau terdiri atas tiga lantai. Denah lantai satu berukuran 12 × 12 meter yang merupakan ruang utama untuk sholat dan juga tempat belajar agama. Di sisi barat terdapat mihrab berukuran 4 × 2,5 meter. Di ruang ini tidak terdapat mimbar. Ruang utama ini ditopang oleh 30 tiang kayu penyangga yang bertumpu di atas umpak batu sungai. Menurut keterangan masyarakat, jumlah tiang sebanyak itu sama dengan jumlah tiang rumah gadang menurut adat Minangkabau. Tiang-tiang tersebut berbentuk segi delapan dan tiang bagian tengah diberi ukiran di sebelah atas serta bagian bawahnya. Dinding dan lantai terbuat dari bilah papan, dan pada sisi utara, selatan, dan timur terdapat jendela yang diberi penutup. Di bagian luarnya terdapat ukir-ukiran berpola tanaman sulur-suluran. Ukiran diletakkan di bagian atas lengkungan-lengkungan yang menutupi kolong bangunan.

Lantai dua berukuran 10 × 7,5 meter, lebih kecil dari lantai satu. Untuk masuk ke lantai dua harus melalui sebuah tangga kayu. Tiang utama (empat tonggak) di lantai dua juga diberi ukiran-ukiran yang berpola sama dengan tiang di lantai satu.

Sedangkan lantai tiga berdenah bujur sangkar berukuran 3,5 × 3,5 meter. Di tengah-tengah ruangan terdapat satu tiang dengan tangga melingkar untuk naik ke menara. Sedangkan bagian luar lantai tiga membentuk empat serambi dengan atap membentuk gonjong yang memantulkan ciri-ciri khas bangunan Minang yang menghadap ke arah empat mata angin.

Dinding serambi yang menghadap luar penuh dengan ukiran yang diberi wama merah, kuning, dan hijau mengambil pola tumbuhan pakis seperti pola bias pada bangunan rumah seorang tokoh masyarakat atau pemerintahan. Di salah satu bidang hias, di setiap serambi terdapat dua ukiran bundar yang bagian tengahnya disamar oleh tumbuh-umbuhan. Ukiran tersebut mengingatkan pada motif uang Belanda dan mahkota kerajaan. Menurut keterangan masyarakat, empat serambi melambangkan “Jurai nan Ampek Suku”, agama, dan lambang dan empat tokoh pemerintahan (Basa Empat Balai) kerajaan Pagarruyung. Sedangkan ukiran pakis di bagian luar serambi melambangkan kebijaksanaan, persatuan, dan kesatuan dalam nagari.
Bangunan menara berdenah segi delapan berdinding kayu dengan jendela jendela semu yang diberi kaca di setiap sisinya. Pada bagian luar, terdapat ukiran sulur-suluran pada bagian bawah dan pada bagian atasnya terdapat hiasan dengan pola segi empat. Bagian atas menara diberi kemuncak yang terdiri dari bulatan-bulatan (labu-labu) yang makin ke atas semakin mengecil dan di akhiri oleh bagian yang runcing (http://aswilnazir.com)







Belum ada Komentar

Isi Komentar








Site Sponsors

Twitter Updates

Popular Articles

Facebook Like

Instagram

Instagram

Site Sponsors