Beranda » Wisata Rohani » Masjid Asasi Sigando di Padang Panjang

Masjid Asasi Sigando di Padang Panjang


Senin, 29 April 2013 - 09:47:00 WIB | Wisata Rohani | 867 pembaca



Masjid Asasi Sigando, juga dikenal dengan Masjid Asasi Nagari Gunung, adalah sebuah masjid yang memiliki sejarah panjang di Kota Padang Panjang. Tak hanya memiliki sejarah, masjid ini juga merupakan masjid tertua di kota ini. Karena sejarahnya, masjid ini menjadi salah satu cagar budaya yang juga bernilai spiritual walaupun masjid ini tetap digunakan sebagai tempat ibadah

Masjid Asasi Sigando berlokasi di Kelurahan Sigando, sesuai dengan nama masjid ini dan berada di Nagari Gunuang, Kecamatan Padang Panjang Timur, Sumatera Barat. Letaknya, tentu tidak begitu jauh dari pusat kota karena luas Kota Padang Panjang yang tidak begitu besar.

Untuk mencapai lokasi masjid, anda bisa menggunakkan berbagai macam kendaraan baik roda dua maupun roda empat serta sudah adanya fasilitas kendaraan umum.

Untuk anda yang menggunakkan kendaraan pribadi, letak dari masjid ini bisa anda temukan dengan menyusuri Jalan Raya Padang – Solok. Posisi masjid berada sekitar 500 meter dari jalan raya. Ketika anda masuk ke arah jalan yang menuju masjid, anda akan menemukan persimpangan.

Beloklah ke kanan, kemudian anda akan langsung melihat gerbang sebuah masjid yang bertuliskan Masjid Asasi Nagari Gunung. Bangunannya mungkin bisa dikatakn mirip dengan rumah adat, serta di depannya ada sebuah bangunan tua bergaya khas kolonial Belanda.

Masjid Asasi Sigando merupakan masjid tertua di Kota Padang Panjang. Masjid ini dibangun di atas tanah wakaf dari Datuak Kayo dan di bangun secara gotong royong oleh masyarakat dari empat koto, yakni koto gunuang, koto jaho, koto paninjauan dan koto tabangan.

Tahun pembuatan dari Masjid Asasi Sigando ini belum diketahui secara pasti, tetapi diperkirakan masjid ini sudah berusia 400 tahun lebih. Bahan-bahan kayu yang digunakkan untuk pembangunan masjid ini, diambil dari Hutan Aie Putih. Bahkan, ditengah masjid, ada sebuah tonggak tuo yang berukuran besar. Sangat sulit dibayangkan bagaimana para masyarakat membawa kayu tersebut dari hutan.

Konstruksi Masjid Asasi Sigando, benar-benar memiliki ciri khas Minang. Masjid yang berdiri di atas tanah seluas 300 meter persegi ini, juga memiliki ukiran-ukiran yang memiliki ciri khas 3 suku yakni, Minang, China dan Hindu.

Walaupun sudah dilakukan pemugaran, bentuk asli masjid ini tidak sama sekali dirubah agar tetap terlihat originalitasnya. Hanya saja atap yang dulu terbuat dari ijuk, kemudian pada tahun 1912, diganti dengan seng.

Perubahan lainnya adalah dengan dipasangnya pagar di sekitar masjid. Karena dipertahankannya originalitas bentuk Masjid, ukiran yang rusak pun akhirnya di benahi dan tetap memasang ukiran baru yang bentuknya sama dengan ukiran yang lama.

Pada zaman dulu, masjid ini lebih dikenal dengan surau gadang yang memiliki arti surau yang besar. Kemudian, barulah setelah tahun 1930 masjid ini lebih dikenal dengan Masjid Asasi.

Selain memiliki 1 buah tonggak tuo yang paling besar, masjid ini memiliki 6 buah tiang penyangga. Di ruangan belakang masjid ini, ternyata masih juga tersimpan benda-benda kuno seperti brangkas milik Belanda serta tafsir-tafsir Al-Qur’an yang masih berbahasa arab melayu.

Bentuk dari bangunan masjid ini memiliki tiga buah tingkatan atap. Bentuk atap ini melambangan tigo tungku sajajarangan, di bagian bawah masjid juga menyerupai rumah panggung karena anda akan menaiki tangga terlebih dahulu.

Sedangkan pada bagian depan masjid yakni di halamnnya, anda akan melihat bedug yang memiliki gonjong sehingga mencirikan bangunan khas Minang. Bisa dikatakan bahwa bedug ini mirip seperti rangkiang, yakni tempat yang berfungsi sebagai lumbung padi. (http://jalan2.com)







Belum ada Komentar

Isi Komentar








Site Sponsors

Twitter Updates

Popular Articles

Facebook Like

Instagram

Instagram

Site Sponsors